Kamis, 21 Mei 2009

Belajar dr monyet

abis baca sebuah artikel dr majalah. Isinya kurang lbh kaya gni.

cara yg unik yang lama telah dipakai di hutan2 Afrika untuk menangkap monyet yg ada di sana. Sistem itu memungkinkan untuk menangkap monyet2 dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa di jadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yg berat itu berisi kacang, ditambah dgn aroma yg kuat dr bhan2 yg di sukai monyet afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan menanam toples itu dalam2 di dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan bbrp monyet yg terperangkap, dgn tangan yg terjulur, dalam setiap botol yg dijadikan jebakan.

ternyata mnyt2 itu tak melepaskan genggaman tangannya sebelum mendapatkan kacang2 yg menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yg keluar dr setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Selama tangan monyet itu menggengam, ia tak akan dapat terlepas dari toples. Ia harus melepaskan kacang yg di gengamnya untuk bisa lepas dari toples dgn mudah. Selama ia tetap mempertahankan kacang2 itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana mana.

kita mungkin tertawa dgn tingkah kebodohan monyet itu. Tapi, mungkin, sesunguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita mengengam setiap permasalahan yg kita miliki, layaknya monyet yg mengengam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah melepaskan maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya.

seringkali, kita membawa "toples2" itu kemanapun kita pergi. Dengan beban yg berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dgn persoalan yg kita alami.

bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yg lalu, dan menatap hari esok dgn lebih cerah? Bukankah lebih menyenangkan, untuk memberikan maaf bagi setiap org yg pernah berbuat salah kepada kita? Karena, kita pun bisa jadi juga bisa berbuat kesalahan yg sama. Ada masalah yg kita bisa selesaikan, ada masalah yg cuma sekian persen saja kita perbaiki dan ada masalah yg memang di luar jangkauan kita untuk kita selesaikan, sehingga ada kalanya masalah menjadi terasa lebih ringan karena ada telinga seorang sahabat mendengarkan curhat kita, walaupun sahabat kita tidak dpt memberikan.

lepaskan apa yg harus di lepaskan dan gengam erat apa yg memang hrs di pertahankan.

Tidak ada komentar: